Pembelajaran Saintifik

Belajar merangkai Kelistrikan body dengan games Touch and Go.

Pembelajaran Saintifik

Belajar Otomotif Menggunakan Team games Turnament.

Pembelajaran Saintifik

Pembelajaran menggunakan KARCIS ( KARtu chaSIS)

Pembelajaran Saintifik

Belajar Multimeter dengan Tutor Sebaya.

Pembelajaran Saintifik

Pembelajaran Coopereative learning dengan bermain kwarted.

Tampilkan postingan dengan label kelengkapan mesin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kelengkapan mesin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 September 2012

Penyebab overheating pada mesin (gangguan Mesin pendingin)

Suatu hari dibalik telephone seorang sahabat bertanya dengan panik bahwa mobilnya berhenti mendadak dan semua roda terkunci. Sempat berbagai pertanyaan terlontar dengan gugup, maklum beliau baru saja membeli mobil tersebut 3 bulan yang lalu. Setelah terjadi tanya jawab yang berlangsung cukup lama diketahui bahwa mobilnya itu mengalami overheat atau panas berlebihan. Bagi para pemilik mobil dan atau kendaraan-kendaran yang menggunakan mesin hasil pembakaran (internal combustion engine), overheating adalah hal yang sangat menakutkan. Efek dari overheating sangatlah fatal seperti pernah dibahas pada artikel sebelumnya tentang akibat dari overheating.
Kenapa terjadi overheating? Apakah karena cuaca yang panas? Ataukah kecepatan mesin yang melebihi batas kemampuan? Berbagai pertanyaan akan muncul dalam benak jika berhadapan dengan overheating. Artikel kali ini akan membeberkan gambaran sederhana penyebab terjadinya overheating pada mesin yang menghasilkan tenaganya dari hasil pembakaran.

Berikut beberapa hal yang dapat digunakan indikator untuk mengidentifikasi terjadinya overheating pada mesin.
1. Tutup Radiator (Radiator Cap) Rusak
Tutup radiator merupakan bagian penting dari sistem pendinginan pada mesin. Radiator Cap berada pada bagian atas radiator yang berfungsi untuk memelihara tekanan didalam radiator agar tidak sampai mendidih dan menguap. Pada tutup radiator terdapat 2 buah katup yang berfungsi untuk memelihara volume air pendingin dan tekanan didalam radiator. Untuk itu periksalah secara berkala tutup radiator dari kemungkinan kerusakan pada bagian-bagian tutup radiator. Lebih lengkapnya silahkan baca pada artikel "Memeriksa Tutup Radiator".
2. Sensor Temperatur/Suhu Rusak
Pada mesin-mesin modern yang sudah melibatkan ECM atau ECU, sensor suhu/temperatur dipasang di beberapa tempat. Sensor ini berfungsi untuk mengirimkan sinyal suhu pada ECM atau ECU. Jika sensor suhu ini mengalami kerusakan maka sinyal tidak dapat dikirim dengan tepat ke ECM/ECU untuk dapat menyesuaikan proses yang terjadi pada mesin sehingga mampu mencegah terjadinya overheating.
3. Sirip Radiator Tersumbat
Semakin lebar sirip-sirip radiator maka semakin mudah proses pelepasan panas dari radiator ke udara luar yang mengalir diantara tabung-tabung radiator. Jika pelepasan panas dapat berjalan lancar tentunya temperatur mesin dapat diperlihara dalam batasan suhu yang stabil/normal. Dapat dibayang seandainya sirip-sirip pendingin pada radiator tersumbat karena benda-benda kecil semacam serangga, kerikil dan lain sebagainya dan atau sirip pendingin penyok sehingga dapat meningkatkan kecenderungan terjadinya overheating pada mesin.
4. Campuran Air Pendingin Salah
Seandainya semua sistem pendinginan dapat bekerja dengan baik sekalipun, tetapi tetap saja sistem pendinginan tidak akan bekerja efektif dan maksimal jika cairan pendingin yang bersirkulasi tidak dalam campuran yang tepat dan ideal. Cairan pendingin adalah campuran air dengan anti beku (anti-freeze) atau ethylene glycol. Bahan tambah (additive) anti-freeze berfungsi untuk mencegah air pendingin membeku pada saat suhu mencapai 0oC dan mencegah air mendidih pada saat suhu mencapai 100oC. Selain itu anti-freeze juga akan membantu mendinginkan air saat air mencapai titik didihnya yaitu 100oC dan bahkan membantu air pendingin saat suhu belum mencapai temperatur normal. Kombinasi campuran air pendingin yang ideal adalah 50% anti-beku dan 50% air. Pada beberapa kasus terutama pada saat musim dingin jumlah anti-freeze bisa ditingkatkan hingga 70%.
5. Kipas Radiator tidak Berfungsi
Kipas radiator terletak dibelakang radiator yang berfungsi untuk membantu aliran udara dari depan radiator melintasi sirip-sirip radiator sehingga proses pelepasan panas dari radiator keudara luar dapat berjalan lancar dan maksimal. Walaupun saat kendaraan berjalan cepat kipas radiator tidaklah terlalu dibutuhkan, makanya pada beberapa mesin mobil modern kipas radiator secara otomatis tidak berputar (mati). Kipas radiator sangat dibutuhkan terutama saat putaran idle dan putaran lambat ketika itu udara dingin tidak begitu baik mengalir melewati gril dan radiator.
Periksalah bilah-bilah kipas radiator dan motor (pada mesin tertentu) untuk memastikan bahwa udara mengalir melewati radiator dengan baik.
6. Pompa Air Macet
Pompa air terletak dibelakang kipas radiator. Pompa radiator berfungsi untuk men-sirkulasikan air pendingin melewati matel air (water-jacket), menyerap panas dari hasil pembakaran yang kemudian dialirkan menuju radiator untuk proses pelepasan panas. Periksalah pompa radiator dari kemungkinan terjadi kerusakan pada gasket dan atau korosi.
7. Thermostat Macet
Thermostat berada pada sekitar aliran air pendingin, ada yang terdapat pada bagian atas mesin atau dibawah pompa air. Untuk Indonesia thermostat sudah jarang disertakan pada mesin oleh para perusahaan mobil Indonesia. Thermostat berfungsi sebagai stopper atau pintu yang mengatur sirkulasi air pendingin, pada saat mesin belum mencapai temperatur ideal maka thermostat akan menutup aliran air dari mantel air (water-jacket) ke radiator sehingga air pendingin hanya akan ber-sirkulasi di sekitar rongga-rongga mesin. Selanjutnya jika temperatur mesin mencapai suhu ideal maka thermostat akan membuka dan mengalirkan air pendingin menuju radiator.
8. Radiator Hose Tersumbat
Pada umumnya sistem pendinginan hanya memiliki dua buah saluran (hose) yaitu upper hose (saluran atas) dan lower hose (saluran bawah). Upper hose mengalirkan air panas dari mesin menuju ke radiator sedangkan lower hose mengalirkan air dingin dari radiator menuju ke mesin. Periksalah saluran-saluran ini dari kemungkinan cacat, bocor, dan menyusut. Untuk memeriksa kebocoran saluran air radiator silahkan baca pada artikel "Memeriksa Kebocoran Sistem Pendinginan Air". Pada kasus tertentu terjadi penyusutan saluran radiator, hal tersebut karena kerusakan pada tutup radiator, tutup radiator yang rusak menciptakan kevakuman didalam radiator sehingga saluran radiator yang terbuat dari bahan lentur (karet) akan terhisap dan menyusut. Untuk memeriksa tutup radiator silahkan baca "Memeriksa Tutup Radiator"
9. Kekurangan Cairan Pendingin
Cairan pendingin adalah darah dari sistem pendinginan, untuk itu keberadaannya merupakan hal mutlak yang tidak bisa di tawar. Jangan berharap mesin dapat berjalan jauh jika sistem pendinginan kekurangan cairan. Untuk itu pastikan volume cairan pendingin dalam jumlah cukup, kita dapat memeriksanya melalui radiator atau melalui tangki cadangan (reservoir tank). Akan lebih baik kita memeriksa jumlah cairan pendingin secara berkala setiap hari atau setiap akan menggunakan kendaaraan melalui reservoir tank.
10. Sabuk Penggerak (Driving Belt) Kendur
Sabuk penggerak atau sering disebut driving belt atau fan belt digunakan untuk meneruskan putaran dari poros engkol (crankshaft) ke pompa air (water pump). Jika driving belt kendur maka putaran dari pulley poros engkol tidak akan diteruskan dengan baik ke pompa air (water pump) sehingga putaran pompa air tidak akan maksimal, akibatnya sirkulasi cairan pendingin tidak berjalan lancar dan terjadilah overheating.
11. Kebocoran Saluran Pendinginan
Radiator dan water jacket dihubungkan dengan upper hose dan lower hose yang terbuat dari bahan karet. Saluran ini sangat rawan mengalami kebocoran terutama pada sambungannya yang hanya diikat menggunakan klem. Pada saat cairan pendingin panas maka volume air bertambah dan terjadilah kompresi (tekanan naik) dan kemudian menyusut (vakum) lagi saat mesin berhenti bekerja. Perubahan inilah yang membuat saluran pendinginan kembang kempis, mengembang saat panas dan menyusut saat dingin. Hal ini membuat sambungan-sambungan saluran pendinginan yang terbuat dari bahan karet mengalami pergeseran dan bahkan klem-an yang mengikat saluran menjadi kendur. Periksalah secara berkala ikatan klem antara saluran pendingin dengan blok mesin dan radiator.
Selamat bekerja, perhatikan baik-baik kelengkapan keselamatan kerja dan semoga artikel ini membantu memperlancar pekerjaan anda. Salam hangat dari Banjarsari - Ciamis - Jawa Barat.

Memeriksa Tutup radiator


Artikel sebelumnya membahasa bagaimana "Memeriksa Kebocoran Sistem Pendinginan Air", artikel kali ini masih lanjutan dari sistem pendinginan pada mesin. Tutup Radiator atau sering di sebut Radiator Cap bukanlah sekedar sebuah tutup, tapi juga memiliki peranan penting dalam sistem pendinginan automobile. Mengenai konstruksi dan bagaimana tutup radiator bekerja akan dibahas dalam artikel berikutnya. Singkatnya tutup radiator berfungsi untuk mengatur tekanan dan volume air pendingin didalam radiator agar stabil. Karena peranan yang penting inilah maka perlu dilakukan pemeriksaan tutup radiator secara rutin/berkala baik secara visual maupun menggunakan alat khusus (SST). Jangan pernah remehkan benda kecil ini karena bisa berakibat fatal, salah satu akibat kerusakan pada tutup radiator adalah terjadinya overheating pada mesin, hal ini tentu akan merusak komponen-komponen mesin.

Pemeriksaan Tutup Radiator Secara Visual
Sebelum kita menggunakan mobil biasanya kita melakukan pengecekan pada beberapa bagian vital mesin salah satunya adalah pengecekan volume air pendingin. Saat kita melakukan pengecekan/pengisian air pendingin akan lebih baik sekaligus melakukan pengecekan tutup radiator.
1. Memeriksa Seal Tutup Radiator
Periksa kelenturan karet pada bagian sil karet bagian luar (Outer Cap Seal) dan dan sil karet bagian dalam (Inner Cap Seal) seperti terlihat pada gambar. Perhatikan kedua sil tersebut dari kemungkinan sobek, kemudian tekan kedua sil tersebut menggunakan kuku dan pastikan bahwa karet kembali rata setelah ditekan menggunakan kuku. Jika pada karet terbentuk cekungan maka tutup radiator harus diganti karena tutup radiator sudah tidak mampu menutup sempurna.
2. Memeriksa Pressure Valve (Katup Tekan)
Tekan katup pressure valve menggunakan kedua jempol, lepaskan kemudian pastikan bahwa katup kembali ke posisi semula. Jika katup tidak bisa kembali berarti pegas pressure valve sudah tidak lentur atau bahkan macet. Ganti Pressure Valve jika tidak mampu bekerja dengan baik, hal ini akan mengakibatkan tekanan didalam sirkulasi sistem pendinginan meningkat dan akan membahayakan sambungan-sambungan saluran air pendingin, perpak kepala silinder, upper hose, lower hose dan radiator. Bahkan pada beberapa kasus tekanan air yang telalu tinggi didalam sistem pendinginan mampu memecahkan radiator, upper hose dan lowe hose.
3. Memeriksa Vacuum Valve (Katup Vakum)
Tarik katup vakum (Vaccum Valve) kemudian lepas, pastikan bahwa katup vakum kembali pada posisi semula dengan posisi katup menutup sempurna pada Inner Cap Seal (sil karet katup tekan). Jika katup vakum tidak kembali ke posisi semula atau kembali tapi posisinya tidak sempurna maka tutup radiator harus diganti. Katup vakum yang jelek akan membuat air didalam radiator selalu berkurang setelah mesin digunakan. Setiap pagi periksa jumlah air pendingin pada radiator, jika jumlahnya berkurang setelah digunakan padahal dalam tangki cadangan (reservoir tank) penuh itu berarti katup vakum tidak bekerja dengan baik atau bahkan macet.

Pemeriksan Tutup Radiator dengan Alat SST (Special Service Tools)
Setelah melakukan pemeriksaan tutup radiator secara visual maka selanjutnya kita akan melakukan pemeriksaan tutup radiator menggunakan alat khusus (SST) seperti langkah-langkah dibawah ini.
Langkah 1 - Mempersiapkan Alat SST
Siapkan alat Universal Radiator Pressure Cooling System Leak Tester untuk memeriksa tutup radiator seperti gambar dibawah ini.
Langkah 2 - Buka Tutup Radiator
Buka tutup radiator. Hati-hati jika mesin dalam keadaan masin panas, tunggulah hingga dingin atau kompres dengan lap basah untuk menurunkan temperature air pendingin.
Langkah 3 - Memilih Adapter
Pilihlah adapter yang tepat sesuai dengan ukuran tutup radiator. Pasang tutup radiator pada adapter kemudian pasang adapter pada handpump (pompa tangan).
Langkah 4 - Periksa Tutup Radiator
Pompa tutup radiator dan perhatikan jarum tekanan (pressure gauge) pada pompa tangan. Pressure gauge harus menunjukan kisaran tekanan 0.9 Bar atau 14.7 PSI. Jika tekanan lebih dari atau kurang dari spesifikasi maka gantilah tutup radiator.
Hasil pemeriksaan menggunakan SST Universal Radiator Pressure Cooling System Leak Tester sudah cukup mewakili kondisi tutup radiator secara keseluruhan.
Dibawah ini video pemeriksaan tutup radiator menggunakan SST.

Selamat bekerja... Selalu gunakan perlengkapan keselamatan kerja terutama kaus tangan dan kaca mata. Semoga artikel ini bermanfaat... Salam hangat dari Banjarsari - Ciamis - Jawa Barat.

Beberapa gambar diambil dengan menggunakan bantuan Google Gambar tanpa memperhatikan sumber websitenya. 

Sumber :http://dehagoblog.blogspot.com/2011/02/memeriksa-tutup-radiator-radiator-cap.html

Memeriksa Kebocoran sistem Pendingin

Kebocoran air pendingin (water coolant) pada sistem pendinginan mobil sangat membahayakan mesin. Jika air tersebut sampai habis pada saat kendaraan digunakan maka kemungkinan overheating sangat besar, sedangkan pada artikel sebelumnya pernah dibahas akibat dari overheating. 3 sampai 6 bulan sekali perlu dilakukan pemeriksaan kebocoran sistem pendinginan air pada mobil, ini merupakan tindakan preventif untuk mencegah kemungkinan terjadi overheating akibat kebocoran air pendingin. Ada beberapa metode yang bisa kita lakukan untuk memeriksa kebocoran air pendingin, tapi pada artikel kali ini hanya akan dijelaskan salah satunya saja.

Dibawah tahapan pemeriksaan kebocoran sistem pendinginan air pada mobil
Langkah 1

Siapkan SST (Special Service Tools) untuk memeriksa kebocoran sistem pendinginan air yang umumnya sering disebut Universal Radiator Pressure Cooling System Leak Tester seperti gambar dibawah ini.
Langkah 2
Buka tutup radiator (radiator cap)

Langkah 3
Pasang adapter yang sesuai dengan mulut tutup radiator

Langkah 4
Pasang pompa tangan (hand pump) kemudian pompakan perlahan. Perhatikan Pressure Gauge pada handpump, jangan sampai tekanan yang diberikan melebihi tekanan standar yaitu berkisar 15 PSI atau 1.1 Bar.
Langkah 5
Perhatikan saluran aliran air pendingin, terutama pada sambungan-sambungan antara radiator dengan radiator hose, antara pompa dengan radiator hose dan beberapa bagian saluran air pendingin.
Jika ditemukan kebocoran pada radiator hose maka perlu dilakukan penggantian, dan atau jika kebocoran terjadi pada sekitar sambungan maka perlu dikencangkan klem-klem penguncinya.
Dibawah ini video tentang penggunaan alat Universal Radiator Pressure Cooling System Leak Tester

Hati-hati dalam bekerja, selalu gunakan alat-alat pengaman seperti kaos tangan dan kacamata pelindung. Selamat bekerja dan mudah-mudahan artikel ini bermanfaat.

Refferensi:
[1] Texas heat and a coolant leak
[2] Youtube | Universal Radiator Pressure Cooling System Leak Tester 

Sumber :http://dehagoblog.blogspot.com/2011/02/memeriksa-kebocoran-sistem-pendinginan.html

Menyetel saat pengapian menggunakan timing light

Waktu pengapian pada mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine) adalah proses pengaturan sudut relatif posisi piston dan sudut kecepatan (angular velocity) poros engkol untuk memicu pembakaran yang terjadi didalam ruang bakar sebelum akhir langkah kompresi. Waktu pengapian dibutuhkan karena campuran udara dan bahan bakar yang dimampatkan tidak sekaligus terbakar secara keseluruhan oleh percikan bunga api dari busi, gas-gas pembakaran membutuhkan periode waktu tertentu untuk mampu terbakar sempurna didalam ruang bakar, dan kecepatan rotasi sudut atau mesin berpengaruh langsung dalam memperpendek atau memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses pembakaran dan ekspansi (langkah kerja) yang terjadi. Selanjutnya sudut waktu pengapian yang ditempatkan lebih maju sebelum titik mati atas disebut sebagai STMA (Sebelum Titik Mati Atas) atau sering disebut pula BTDC (Before Top Dead Center). Memajukan waktu pengapian pada posisi STMA berarti percikan diberikan sebelum titik dimana ruang pembakaran mencapai ukuran minimum, karena tujuan langkah kerja pada mesin pembakaran dalam adalah memaksa torak turun ke bawah atau untuk memperluas ruang pembakaran. Percikan api yang terjadi setelah titik mati atas atau ATDC (After Top Dead Center) biasanya kontra-produktif (menghasilkan percikan terbuang, ledakan ulang atau detonasi, ketukan mesin dan lain-lain) kecuali percikan tersebut dibutuhkan sebagai percikan tambahan atau sebagai pembakaran lanjutan sebelum langkah buang.

Pengaturan waktu pengapian yang tepat merupakan hal penting agar kinerja mesin bisa maksimal. Percikan yang terlalu cepat atau terlalu lambat dalam siklus mesin sangat mempengaruhi performa mesin, menimbulkan getaran yang berlebihan, dan bahkan merusak mesin. Waktu pengapian juga mempengaruhi umur mesin, konsumsi bahan bakar, dan tenaga mesin. Waktu pengapian pada mesin modern kontrol secara realtime menggunakan unit kontrol mesin dengan komputer sesuai dengan putaran mesin dan beban. Sedangkan pada mesin generasi lama yang masih menggunakan distributor masih menggunakan pemicu mekanik dengan memanfaatkan gaya inersia (dengan menggunakan bobot putar dan pegas) dan kevakuman pada manifold untuk mengatur waktu pengapian yang disesuaikan dengan putaran mesin dan beban.
Banyak faktor yang memperngaruhi waktu pengapian yang tepat. Diantaranya waktu buka tutup katup atau injeksi bahan bakar, tipe sistem pengapian yang digunakan, jenis dan kondisi busi, kualitas bahan bakar, suhu dan tekanan bahan bakar, kecepatan mesin dan beban, udara dan temperatur mesin, turbo boost pressure atau tekanan asupan udara, komponen yang digunakan oleh sistem pengapian, dan pengaturan masin-masing komponen sistem pengapian. Biasanya, setiap dilakukan perubahan dan peningkatan kualitas mesin maka diperlukan perubahan pengarutan waktu pengapian.
Waktu percikan pengapian untuk membakar campuran udara dan bahan bakar pada mesin generasi lama dikendalilan oleh perangkat mekanik yang terkumpul pada komponen sistem pengapian yang dikenal dengan nama distributor, digunakan untuk memicu percikan bunga api dan mendistribusikannya kepada setiap silinder yang disesuaikan dengan posisi piston atau derajat relatif poros engkol terhadap Titik Mati Atas (TMA).
Waktu pengapian, relatif terhadap posisi piston yang didasarkan pada waktu asal (awal atau dasar) sebelum sentrifugal maju. Centrifugal Advancer yang terdapat pada distributor adalah mekanisme mekanik untuk memajukan waktu percikan (yang menyesuaikan derajat poros engkol) sesuai dengan peningkatan putaran mesin. Selain sentrifugal sebagai cara untuk memajukan waktu pengapian, ada juga sistem lain yang memanfaatkan kevakuman intake manifold untuk memajukan waktu pengapian yang kemudian di kenal dengan Vacuum Advancer.

Penyetelan Waktu Pengapian
Seperti telah dijelaskan diatas, bahwa waktu pengapian sangatlah penting yang berpengaruh langsung terhadap kinerja mesin, konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang. Di bawah ini akan dijelaskan cara melakukan penyetelan waktu pengapian untuk sistem pengapian konvensional.
Langkah 1 : Siapkan Timing Light yang biasanya tersedia satu paket dalam Tune-Up Kit seperti gambar dibawah ini.

Langkah 2 : Hidupkan mesin sampai mencapai temperatur normal, jika sudah mencapai suhu normal. Kemudian stel putaran mesin sampai mencapai putaran normal idle atau stationer (langsam). Gunakan Tachometer untuk mengetahui putaran mesin saat dilakukan penyetelan pada karburator. Putaran mesin normal idle adalah berkisar 800 - 1200 RPM (Rotation Per Minutes). Hal ini dimaksudkan agar sistem pengajuan pengapian yang sesuai dengan putaran mesin (centrifugal advance) belum bekerja, jika putaran idle lebih dari 1200 RPM maka sistem pengajuan pengapian sudah bekerja untuk memajukan waktu pengapian. Setelah putaran mesin sesuai spesifikasi idle, matikan mesin. [Mengenai detail penyetelan putaran idle akan dibahas pada artikel terpisah].

Langkah 3 : Lepas slang vacuum dari vacuum advancer (sistem pengajuan pengapian sesuai dengan kevacuuman) yang menuju ke karburator. Hal ini agar waktu pengapian tidak dipengaruhi oleh vacuum advancer.

Langkah 4 : Pasang kabel postifi negatif Timing Light ke sumber tegangan (baterei)

Langkah 5 : Pasang trigger clamp Timing Light ke busi nomor satu sesuai dengan aliran tegangan. Perhatikan tanda panah yang ada pada trigger clamp dan arahkan tanda panah sesuai dengan arah aliran tegangan dari distributor menuju ke busi (spark plug).

Langkah 6 : Kendurkan pengunci distributor (distributor clamp) agar rumah distributor bisa digeser/diputar ke kiri dan ke kanan tapi jangan pula terlalu kendur. Hidupkan mesin.

Langkah 7 : Arahkan timing light pada timing mark (tanda waktu pengapian). Dan perhatikan waktu pengapian yang terjadi sesuai yang ditunjukan oleh tanda waktu pengapian. Jika waktu pengapian tidak tepat, geserlah waktu pengapian.

Langkah 8 : Sesuaikan waktu pengapian dengan spesifikasi kendaraan (standar umum waktu pengapian adalah 8o - 12o STMA). Pada sistem pengapian konvensional untuk menggeser waktu pengapian cukup dengan menggeser/memutar distributor. Jika diputar berlawanan arah putaran rotor maka waktu pengapian akan lebih cepat/awal. Jika di putar searah dengan putaran rotor maka waktu pengapian akan lebih lambat/akhir.

Langkah 9 : Kencangkan baut distributor jika waktu pengapian sudah tepat.

Video Penyetelan Waktu Pengapian


Referensi :

Selasa, 05 Juni 2012

Karburator

Sistem Bahan Bakar (Fuel System)

Sistem Pelumasan (Lubricating System)

Sistem Pendingin (cooling system)